Rabu, 12 Juni 2013

TENTANG LEMBAR KEGIATAN SISWA(LKS) KEWIRAUSAHAAN DI SMK ( Sebuah telaah )



Menilik LKS di sekolah – sekolah tak ubahnya bagaikan pelangi yaitu berbagai macam type dan model LKS yang semuanya menjadi materi yang akan diajarkan ke siswa-siswi namun semuanya itu tetap mengacu pada silabus yang ada. Dari pengamatan bahwa LKS Kewirausahaan di SMK ternyata masih banyak LKS yang mengajarkan teoritis daripada praktek, hal itu dikarenakan sang penulis lebih banyak mengacu pada kajian akademis bukan pada terapan. Padahal di SMK harusnya lebih banyak materi – materi praktek daripada teoritis karena SMK adalah”tenaga siap pakai”di dunia kerja sehingga harus bisa menjawab tantangan dunia kerja sebagai tenaga tersebut.Sebagai contoh adalah : 1.Masih banyak yang mengutip teori/pendapat tokoh tentang suatu ilmu seperti : ilmu penjualan, padahal secara praktek bahwa teori tidak banyak bermanfaat bagi para siswa-siswi di SMK dan akan lebih bermanfaat jika diajarkan apa arti ilmu menjual dan sekilas tentang praktek dari ilmu penjualan
2.Banyaknya penjelasan yang masih rumit tentang pemahaman suatu ilmu dan masih dikaitkan dengan pendapat tokoh,dimana harusnya penjelasan lebih simpel dan mudah dimengerti
3.Ketidaktahuan sistim prosedur usaha yang harusnya lebih banyak diajarkan berikut dengan formulir – formulir di perusahaan yang dipakai,karena sistim prosedur merupakan bagian yang penting di dalam sistim usaha
Hal – hal itu yang bisa menjadi bahan kajian kita bersama sebagai masukan agar benar – benar bisa menjadikan siswa didik kita menjadi tenaga yang benar – benar kita harapkan yaitu tenaga kerja dari SMK yang handal dan dapat bersaing di pasaran kerja sebagai”tenaga ahli”yang kita harapkan..semoga..(Sigit Panggah P.-Pengamat-Praktisi-Pengajar)

WIRAUSAHA ISLAM – SEBUAH ALTERNATIF ILMU



Berbicara tentang wirausaha hal itu tidak lepas dari namanya ilmu kewirausahaan yang berarti Kewirausahaan (Inggris: Entrepreneurship) atau Wirausaha adalah proses mengidentifikasi, mengembangkan, dan membawa visi ke dalam kehidupan.Visi tersebut bisa berupa ide inovatif, peluang, cara yang lebih baik dalam menjalankan sesuatu.Hasil akhir dari proses tersebut adalah penciptaan usaha baru yang dibentuk pada kondisi risiko atau ketidakpastian (Wikipedia)
Wirausaha yang diajarkan di Sekolah Menengah Atas/Kejuruan selama ini adalah berdasarkan ilmu wirausaha murni berdasarkan kaidah – kaidah unsur – unsur kewirausahaan.Menilik trend yang berkembang saat ini dimana banyak pondok – pondok pesantren yang sudah mempunyai sekolah sendiri visi – misinya pun yang tak lepas dari basis pesantren sehingga harusnya muatan materinya adalah lebih kearah kaidah – kaidah keislaman
Keuletan, pantang menyerah, tidak putus asa adalah materi yang mutlak diajarkan dalam ilmu kewirausahaan yang mutlak agar siswa-siswi bisa menjadi wirausahawan yang handal nantinya setelah lulus dari sekolah jika lapangan kerja sudah tidak menjawab kebutuhan lulusan.Basis wirausaha syariah(islam)seharusnya mulai dikembangkan dari sekarang selain tuntutan dari pondok pesantren sebagai”holding company”sekolahnya maka basis pesantren tidak boleh ditinggalkan. Pada sisi lain ada satu ilmu yang diajarkan sebagai wirausaha handal dari sisi  kejujuran,dimana ilmu kejujuran dalam hal ini memiliki 2 fungsi yaitu : 1.Mengikuti jejak Rasulullah SAW sebagai wirausaha yang handal karena kejujurannya,2.Maraknya korupsi sampai ke akar-akarnya dengan berbagai bentuk komponen yang telah menggejala parah dan mengindikasikan banyak pengusaha yang koruptor,maka kejujuran menjadi sangat penting membina para siswa – siswi/calon wirausaha handal untuk membangun mental wirausaha yang lebih tangguh lagi
Mengutip pernyataan Prof. Afzalul Rahman dalam buku Muhammad A Trader, mengungkapkan: ‎
‎“Muhammad did his dealing honestly and fairly and never gave his customers ‎to complain. He always kept his promise and delivered on time the goods of quality ‎mutually agreed between the parties. He always showed a gread sense of ‎responsibility and integrity in dealing with other people”. Bahkan dia mengatakan: ‎‎“His reputation as an honest and truthful trader was well established while he was ‎still in his early youth”.‎
“Nabi ‎Muhammad adalah seorang  pedagang yang jujur dan adil  dalam membuat perjanjian ‎bisnis. Ia tidak pernah membuat para pelanggannya komplain. Dia sering menjaga  ‎janjinya dan menyerahkan barang-barang yang di pesan dengan tepat waktu. Dia ‎senantiasa menunjukkan  rasa tanggung jawab yang besar dan integritas yang tinggi ‎dengan siapapun. Reputasinya  sebagai seorang pedagang yang jujur dan benar telah ‎dikenal luas sejak beliau berusia muda”‎
Penjelasannya adalah bahwa Rasulullah SAW hanya bermodal kejujuran bisa menjadi pedagang yang mempunyai reputasi yang luar biasa. Pada kesimpulannya bahwa jika para siswa-siswi dari awal sudah mendapat ilmu kejujuran maka tak heran juga bisa mengikuti jejak langkah Rasulullah SAW dan menjadi pengusaha yang jujur dan tidak korupsi, sungguh indah generasi bangsa kita dan tentunya kasus korupsi yang sedang marak bisa sedikit berkurang..amin..(Sigit Panggah P.-Pengamat-Praktisi-Staf Pengajar Kewirausahaan)

Minggu, 16 September 2012

KEWIRAUSAHAAN SUATU PRAKTEK ( Sebuah Telaah Tentang Kewirausahaan di SMK )

Pada saat ini SMK masih menjadi primadona di dunia pendidikan, mengingat kondisi dan situasi yang bertemu pada saat yang sama yaitu dimana pemerintah sedang meng"anak emas"kan SMK dan kebutuhan orang tua terhadap anak-anaknya di dunia pendidikan. SMK yang masih laris manis dengan beberapa produk yang telah mengisi khasanah dunia produksi di tanah air, ternyata menimbulkan keterpikatan orang tua untuk berbondong - bondong menyekolahkan anaknya disana. Di sisi lain orang tua juga sudah berfikir cerdas, selain nanti anaknya menjadi tenaganya siap pakai di dunia kerja juga orang tua tidak pusing - pusing menyekolahkan sampai sekolah tinggi dengan biaya yang tinggi pula pada akhirnya mereka melihat tidak ada jaminan ketika bersekolah tinggi langsung mendapat kerja yang layak. Salah satu mata pelajaran yang diajarkan di SMK adalah Kewirausahaan, dimana pada modul - modul yang diajarkan memang memuat materi lengkap tentang jalan atau cara yang nantinya menjadi wirausahawan. Secara ideal di dalam sebuah SMK pastinya ada ruang praktek sebagaimana SMK pada umumnya seperti SMK jurusan mesin yang pastinya punya ruang praktek keahlian mesin.Begitupun dengan mata pelajaran kewirausahaan idealnya adalah praktek menjadi andalan supaya dapat menjadi wirausaha handal,selain ruang praktek sesuai dengan jurusan keahlian di SMK, harusnya SMK yang berbasis wirausaha mempunyai semacam laboratorium atau ruang praktek membuat produk tersebut dan dipasarkan dengan menggunakan label SMK tersebut. Pada beberapa SMK yang sudah maju hal ini sudah berjalan sebagaimana mestinya yaitu disamping produk utamanya adalah tenaga yang handal juga dan memproduksi alat - alat, produk-produk wirausaha hadir sebagai pelengkap ataupun penunjang dari produk utamanya.Sebagai contoh misal : di SMK jurusan mesin yang sudah bisnis oriented pasti membutuhkan spare parts seperti : mut atau baut, maka produk wirausaha penunjangnya adalah pembuatan mur atau baut. Seperti di perusahaan ada bisnis yang berbasis hulu yang merupakan mainstream atau produk utama sedangkan produk wirausaha adalah downstream atau produk penunjang atau hilir.Dengan metode ini diharapkan selain semakin terasah ketrampilannya/skills-nya juga dapat melatih dan meningkatkan kemampuan di bidang kewirausahaan ( Sigit P.P-Pengajar Kewirausahaan di SMK Al Watasi-Pancawati-Caringin-Kab.Bogor)

Minggu, 08 Juli 2012

Dilematika Kependidikan Di Indonesia

Menilik fenomena kependidikan di Indonesia tentunya tidak lepas dari pasang surut dunia guru atau ranah kepengajaran. Secara umum kependidikan sangat dibutuhkan di nusantara ini mengingat banyak yang perlu"diajarkan"tentang bagaimana Indonesia ini. Yang paling menjadi titik poin dalam kependidikan adalah mutu pengajarnya baik dari tingkat dasar, menengah ataupun tinggi. Sebenarnya kualitas SDM kita sangatlah kapabel, cuma tidak terkoordinasi dengan baik, hal ini terbukti dengan beberapa orang Indonesia yang sukses besar menjadi pengajar di negeri orang. Bahkan tidak jarang menjadi orang - orang yang sukses di dunia bisnis baik di luar maupun di bumi kita tercinta ini. Akhir - akhir ini juga banyak siswa-siswi dari Indonesia yang sering mendapat predikat juara di luar negeri ataupun negeri sendiri sebagai scientist-scientist muda dalam penemuan ilmiah ataupun dalam ajang olimpiade-olimpiade keilmuan. Grafik kependidikan kita sebenarnya masih sangat tergantung oleh pemerintah kita sendiri, namun saat ini para pengajar di sekolah-sekolah negeri sedikit berbangga, karena kesejahteraan mereka sudah cukup terperhatikan. Di sisi lain di pihak sekolah yang dikelola oleh swasta atau yayasan masih menunjukkan peta yang masih kurang dalam hal kesejahteraan, meskipun pada satu kasus ada yayasan - yayasan yang memang sangat memperhatikan juga. Pengkomoditian bisnis sekolah akhirnya menjadi pilihan yang mutlak sehingga banyak guru - guru sudah berfikir tentang bisnis.Tak jarang pula muncul guru-guru yang berfikir"ada uang-ada ilmu"-"ada duit-ada pengabdian".Di dalam peta bisnis sangatlah wajar jika berfikir demikian, sebab suatu saat akan demikian.Jika melihat kondisi pendidikan dan perekonomian yang tidak merata di republik ini akhirnya menjadi masalah ketika ada guru-guru yang berfikir demikian. Yang menyedihkan adalah jurang masih tercipta antara si kaya dan miskin, yang kemudian timbul sekolah si kaya dan sekolah si miskin dan itu sudah terjadi di negara kita dan guru hanya mementingkan duit bukan kualitas siswa. Sebagai pengajar tentunya berfikir jangan sampai siswa juga berfikiran "semua karena duit sekolah beres". Ini dunia pendidikan yang mengajarkan unsur -unsur kearifan di dalamnya. Lebih menyedihkan lagi adalah guru-gurunya tidak berfikir tepat kondisi, yaitu situasi dimana guru hanya memikirkan uang sedangkan mereka masih dibutuhkan pengabdian daripada ilmu dan keahliannya yang dijual. Fenomena pendidikan kita sebenarnya masih banyak perlu pengabdian, sebab jika guru - guru tidak berfikir tepat kondisi seringkali operasional sekolah terganggu. Ada guru yang perduli dan tidak perduli, sehingga akan timbul jurang yang perduli dan tidak perduli dan akibatnya sangatlah tidak kondusif untuk sekolah tersebut. Manajemen yang amburadul, guru-guru yang tidak perduli, siswa yang semakin sulit diatur yang kemudian membuat sekolah tersebut semakin semrawut.Ada baiknya kita juga sesekali merefleksi keadaan seperti ini sehingga bisa dijadikan parameter dalam dunia kependidikan kita. Semoga... 

Rabu, 04 Juli 2012

Pengetahuan dan Guru Muda

Pentingnya pengetahuan tentang manajemen sekolah dan operasional sekolah adalah hal yang mutlak, mengingat bahwa mengelola sekolah adalah sesuatu yang tidak mudah. Minimnya pengetahuan guru - guru terutama guru - guru muda sangat mempengaruhi performance dan kinerja sekolah. Sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu tentang kependidikan hanya bisa didapat dari sarjana-sarjana berbasis kependidikan dan akta mengajar (AKTA IV). Fenomena booming guru pun mempengaruhi banyaknya lulusan-lulusan fresh graduate yang banyak memilih untuk menyeberang ke jalur pendidikan. Kerasnya dunia kerja juga sangat berpengaruh terhadap condongnya para lulusan - lulusan muda ini mengambil jalan pintas untuk menjadi guru. Pola pikir lebih mudah menjadi guru daripada bekerja juga turut mendominasi pemikiran mereka. Jika kita melihat manajemen sekolah ternyata lebih rumit daripada dunia kerja, sehingga akhirnya banyak guru - guru non kependidikan mempunyai jalan pemikiran sendiri. Mengelola administrasi sekolah baik dari sisi guru atau siswa ternyata lebih komplek permasalahan - permasalahan yang muncul dibanding di dunia kerja. Belum lagi berdasar standart penilaian yang ditetapkan oleh Kementrian Pendidikan Nasional dan harus dilaporkan berkala kesana.Hal - hal tersebut yang belum diketahui oleh para guru - guru muda terutama non kependidikan, mereka lebih kearah pemikiran dia sendiri, dimana dia lebih memilih menjadi idola siswa-siswi daripada kedisiplinan, kepingin menjadi"dewa"bagi siswa-siswa yang bermasalah terutama tidak naik kelas atau "menghalalkan" situasi - situasi kearah non kegiatan belajar mengajar atau pembelajaran siswa. Pada titik finalnya adalah sangat mempengaruhi performance sekolah itu sendiri di mata masyarakat mulai dari sekolah yang kurang disiplin, guru-gurunya tidak jelas sampai sekolah yang banyak liburnya. Disini titik sulit dari mengelola sekolah karena tidak hanya menjadi guru yang pintar saja tapi guru yang cerdas dalam mensikapi semua itu agar performance sekolah menjadi baik. Mungkin solusi yang paling jitu adalah bagaimana mensosialisasikan pengetahuan - pengetahuan tersebut kepada guru - guru baru yang belum tahu dan mengerti ranah pendidikan. Semoga menjadi renungan kita semua. 

Selasa, 26 Juni 2012

Fenomena Guru dan Jejaring Sosial

Jika kita berbicara sekolah tentunya tidak lepas dari peran guru, dimana peran guru sangat penting bagi masa depan anak. Pada saat sekarang ini guru dituntut dapat membina siswa-siswinya bukan hanya sekedar mendidik dan menjadikan anak itu pandai. Seiring dengan perkembangan negara, politik, situasi sosial masyarakat dan yang paling parah adalah mengglobalnya era informasi, yang dicontohkan dengan maraknya warnet ke pelosok-pelosok. Memang dari sisi kemajuan jaman bisa dikatakan sebuah era yang harus terjadi di masyarakat sehingga internet sekarang sudah bisa menerobos masuk ke desa-desa. Segi positifnya bahwa guru - guru zaman sekarang harus menguasai komputer plus dengan internetnya sehingga tak jarang guru - guru SD pun tak kalah untuk memiliki laptop pribadi, supaya tidak ketinggalan zaman. Yang harus dipahami juga anak - anak/siswa juga ikut dalam arus tersebut, sepanjang memberikan dampak positif dan memberikan ilmu hal itu dinamakan kemajuan yang konstruktif untuk anak didik. Terkadang bahkan sering hal yang negatif yang sering berkembang yaitu budaya berkomentar dan uneg-uneg di jejaring sosial seperti facebook, seringkali kita melihat anak sekolah berkata - kata yang tidak senonoh di jejaring tersebut sebagai ungkapan rasa kesalnya dan sering mengatai - ngatai sekolahnya sendiri,teman,guru serta keluarganya.Secara bijak sebagai guru kembali ke fitrah sebagai membina anak bangsa dengan adanya jejaring itu, tidak hanya mendidik saja sebab mendidik tetap akan membiarkan terjadi hal - hal yang seperti itu di jejaring sosial seperti facebook sedangkan membina yaitu mengingatkan apabila siswa atau murid berkata - kata tidak pantas di jejaring sosial yang dilihat oleh semua orang di seluruh dunia. Untuk sebagian sekolah atau guru sudah berjalan pembinaan seperti itu tetapi sebagian lagi ada guru - guru yang masih cuek atau tidak perduli dengan siswa yang seperti itu. Mari kita kembali ke fitrah guru sebagai pembina kader-kader bangsa yang bakal menjadi pemimpin-pemimpin di masa datang...

Kamis, 10 Mei 2012

SMK - Sebuah Kasus

Fenomena SMK yang sedang naik daun dan diburu banyak orang pada saat ini memang sedang marak, pada kenyataannya juga banyak diiringi langkah - langkah kongkrit dari SMK itu sendiri dalam mewujudkan eksistensinya.Jika kita menyimak model tersebut, kita ambil contoh : Ketika trend pembuatan mobil dimulai oleh SMK di Solo yang terkenal dengan mobil ESEMKA-nya maka banyak sekali SMK yang berlomba - lomba membuat mobil. Permasalahannya adalah harusnya bukanlah sebuah trend akhirnya menjadi "kelatahan" sesaat dalam menyikapi semua itu namun adalah sebuah etos kerja yang harusnya menjadi kultur kreatifitas yang bisa diciptakan di SMK. Menurut pengamatan kami ada SMK dengan kriteria - kriteria tertentu : 1.SMK Tahap Awal : Biasanya masih berkutat dengan status, tapi bermasalah dengan kultur belajar, mereka sibuk mengikuti lomba kesana - kemari untuk sekedar diakui oleh masyarakat dan agak sedikit mengabaikan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar),2.SMK Tahap Menengah : Biasanya mereka sudah sedikit punya nama,semangat belajar sudah lumayan, KBM sudah lumayan bagus, skill lumayan, kegiatan eksis,tapi masih terkadang sedikit bermasalah dengan kedisiplinan,3.SMK Tahap Maju : rata - rata sudah RSBI atau SBI,etos belajar dan disiplin yang tinggi, menguasai IPTEK dan good skill. Adapun krisis skill pun melanda para civitas academica di masing-masing tingkatan tersebut, misal : guru - guru yang berada di tingkatan SMK Tahap Menengah akan susah masuk kedalam SMK Tahap Awal sebab kulturnya sudah berbeda dan pada akhirnya berada pada suatu masalah susah beradaptasi, namun hal itu wajar karena guru yang bersangkutan tentu akan bersikap selangkah lebih maju. Pada sisi lain yang diajak maju pun pasti berbenturan dengan kultur tersebut sehingga pasti tidak bisa dihindarkan perbedaan itu. Bagi yang bersangkutan mungkin solusi paling tepat adalah saling memahami dan belajar lebih sabar lagi dalam menyikapi semua itu.